Buruh Migran Indonesia Memenangkan Penghargaan “Anugerah Sastra VOI”

0
574
Pemenang "Anugerah Sastra VOI" 2018 (foto: Rey Janecekova)

Saat mendengar kata BMI ( Buruh Migran Indonesia ) atau yang dulu disebut dengan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), kebanyakan orang akan langsung membayangkan seorang pekerja rumah tangga yang hanya tau pekerjaan-pekerjaan rumah tangga saja.

Tapi ternyata anggapan tersebut salah besar. Ternyata banyak juga kisah-kisah buruh migran yang berprestasi dan sukses dalam berbagai bidang. Hal tersebut dibuktikan oleh tiga dara ayu yang hadir di acara Anugerah Sastra VOI yang diadakan di Auditorium Jusuf Ronodipuro, lantai 2 gedung RRI Jakarta pada hari Kamis, 17 November 2018.

Pada acara dengan tema Guratan Pena: Menjayakan Bahasa Dan Sastra Indonesia juga dilakukan pembacaan cerpen-cerpen yang ditulis oleh para pemenang. Dari ketiga cerpen yang dibacakan, kita tidak akan pernah mengira bahwa karya tersebut ditulis oleh pekerja rumah tangga yang hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama.

Cara penulisan, ide cerita dan juga alur ceritanya sangat rapi dan menarik. Terlihat bahwa pengetahuan literasi mereka sangat baik. Cerita yang mereka tulis juga sangat dalam sehingga saat pembacaan cerpen-cerpen tersebut, kita seakan terbawa dalam alur cerita dalam cerpen yang mereka tulis.

Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri Drs. Agung Susatyo memberikan sambutannya pada acara "Anugerah Sastra VOI" yang berlangsung pada Kamis 15 November 2018 di Auditorium Jusuf Ronodipuro, Gedung RRI Jakarta (Foto: Rey janecekova)
Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri Drs. Agung Susatyo memberikan sambutannya pada acara “Anugerah Sastra VOI” yang berlangsung pada Kamis 15 November 2018 di Auditorium Jusuf Ronodipuro, Gedung RRI Jakarta (Foto: Rey janecekova)

Dalam sambutannya, Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri Bapak Drs. Agung Susatyo mengatakan “Bagi saya mereka itu bukan seperti yang kita bayangkan dengan kata-kata TKI dan sebagainya. Mereka ini saya tanya berpendidikan hanya sekolah menengah pertama. Tapi penguasaan dalam bahasa Inggris, penguasaan bahasa mandarinnya dan penulisan, ini yang sangat sangat mengagumkan“.

Diceritakan pula oleh bapak Drs. Agung Susatyo tentang bagaimana perjuangan para pemenang Anugerah Sastra VOI ini pada saat penulisan karya-karya mereka. Ada yang menulis ceritanya pada selembar kertas tissue, ada pula yang sampai menangis di kamar mandi pada saat menulis. Semua itu dikarenakan waktu yang tidak banyak mereka miliki disela-sela pekerjaannya. Hal ini menjadi sangat menarik sehingga Bapak Drs. Agung Susatyo menyarankan untuk menjadikan cerita-cerita dibalik penulisan cerpen-cerpen tersebut dijadikan sebuah buku.

Gelar Wicara Anugerah Sastra VOI beserta para pemenang (Foto: Rey Janecekova)
Gelar Wicara Anugerah Sastra VOI beserta para pemenang (Foto: Rey Janecekova)

Pada acara Anugerah Sastra VOI tersebut, dihadirkan ketiga pemenang yang adalah pekerja migran dari Hongkong dan Taiwan. Pemenang pertama, Ayundha Lestari (Pekerja Migran Hongkong) dengan judul cerpen “Dunia Sean”, pemenang kedua adalah Arista Devy ( Pekerja Migran Hongkong) dengan judul cerpen “Rahasia Suki dan Kesaksian Pembantu Pertama” dan pemenang ketiga adalah Jessy Ae (Pekerja Migran Taiwan), dengan judul cerpen “Pulang”.

Mereka khusus didatangkan langsung dari negara dimana mereka bekerja untuk menerima penghargaan Anugerah Sastra VOI, sekaligus peluncuran buku kumpulan cerpen mereka.

Dari ketiga cerpen yang memenangkan penghargaan tersebut, dua diantaranya merupakan cerita tentang kehidupan nyata mereka sebagai pekerja migran, yang dibumbui dengan sedikit fiksi. Cerita paling menyentuh perasaan, bahkan membuat kita menitikkan air mata saat pembacaan cerpen tersebut adalah cerita tentang seorang pekerja migran yang tidak dapat pulang pada saat ayahnya meninggal. Cerpen berjudul “Pulang” yang ditulis oleh Jessy Ae tersebut menggambarkan bagaimana majikannya yang sudah tua sering berteriak dan marah kepadanya karena sering melihat lelaki mengelus kepala sang pekerja dan ingin membawanya pergi.

Cerita yang sederhana, tetapi dikemas dengan penulisan yang sangat indah sehingga sejak awal cerita sampai akhir kita diajak untuk menerka-nerka maksud dari cerita tersebut. Apakah sang majikan tersebut gila sehingga dia sering berteriak dan marah karena bayang-bayang ketakutannya sendiri, siapa sosok yang sering mendatangi sang majikan. Bagaikan cerita misteri, banyak kejadian yang menegangkan sepanjang cerita. Dan semuanya pertanyaan tersebut baru akan terjawab pada akhir cerita.

Pembacaan Cerpen Pemenang Pertama Ayundha Lestari, pekerja imigran Hongkong (Foto: Rey janecekova)
Pembacaan Cerpen Pemenang Pertama Ayundha Lestari, pekerja imigran Hongkong (Foto: Rey janecekova)

Anugerah sastra VOI adalah merupakan apresiasi yang diberikan oleh Voice Of Indonesia terhadap karya sastra warga Negara Indonesia di luar negeri. Karya sastra berupa cerita pendek dan karya anak bangsa yang ada di luar negeri ini disiarkan seminggu sekali melalui acara Guratan Pena oleh VOI.

Digagas oleh Bapak M. Kabul Budiono, yang saat ini menjabat sebagai Anggota Dewan Pengawas LPP RRI, disiarkan pertama kali dengan nama Bilik Sastra pada tahun 2011. Tahun 2018 ini, acara Bilik Sastra diubah namanya menjadi Guratan Pena yang diasuh oleh pegiat sastra Ibu Pipit Senja.

Acara Guratan Pena ini diharapkan kedepannya bisa menghasilkan penulis-penulis berprestasi dari warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri yang berada di negara-negara lain juga. Dan melalui dunia sastra dapat lebih memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia Internasional.

 

LEAVE A REPLY